poin

Sabtu, Maret 27, 2010

Mencari Hikmah Dalam Kehilangan

Orang yang pandai adalah yang senantiasa mengoreksi diri dan menyiapkan bekal kematian. Dan orang yang rendah adalah yang selalu menurutkan hawa nafsu dan berangan-angan kepada Allah.” (At-Tirmidzi)

Maha Besar Allah Yang menghidupkan bumi setelah matinya. Air tercurah dari langit membasahi tanah-tanah yang sebelumnya gersang. Aneka benih kehidupan pun tumbuh dan berkembang. Sayangnya, justru manusia mematikan sesuatu yang sebelumnya hidup.

Tanpa terasa, kita sudah begitu boros terhadap waktu

Trend hidup saat ini memaksa siapapun untuk menatap dunia menjadi begitu mengasyikkan. Serba mudah dan mewah. Sebuah keadaan dimana nilai kucuran keringat tergusur dengan kelincahan jari memencet tombol. Dengan bahasa lain, dunia menjadi begitu menerlenakan.

Tidak heran jika gaya hidup perkotaan menggiring orang menjadi manja. Senang bersantai dan malas kerja keras. Di suasana serba mudah itulah, waktu menjadi begitu murah. Detik, menit, jam, hingga hari, bisa berlalu begitu saja dalam gumulan gaya hidup santai.

Sebagai perumpamaan, jika seseorang menyediakan kita uang sebesar 86.400 rupiah setiap hari. Dan jika tidak habis, uang itu mesti dikembalikan; pasti kita akan memanfaatkan uang itu buat sesuatu yang bernilai investasi. Karena boleh jadi, kita tak punya apa-apa ketika aliran jatah itu berhenti. Dan sangat bodoh jika dihambur-hamburkan tanpa memenuhi kebutuhan yang bermanfaat.

Begitulah waktu. Tiap hari Allah menyediakan kita tidak kurang dari 86.400 detik. Jika hari berganti, berlalu pula waktu kemarin tanpa bisa mengambil waktu yang tersisa. Dan di hari yang baru, kembali Allah sediakan jumlah waktu yang sama. Begitu seterusnya. Hingga, tak ada lagi jatah waktu yang diberikan.

Sayangnya, tidak sedikit yang gemar membelanjakan waktu cuma buat yang remeh-temeh. Dan penyesalan pun muncul ketika jatah waktu dicabut. Tanpa pemberitahuan, tanpa teguran.

Allah swt. berfirman, “Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (dari Allah swt.).” (Al-Anbiya’: 1)

Tanpa terasa, kita kian jauh dari keteladanan Rasul dan para sahabat

Pergaulan hidup antar manusia memunculkan tarik-menarik pengaruh. Saat itulah, tanpa terasa, terjadi pertukaran selera, gaya, kebiasaan, dan perilaku. Semakin luas cakupan pergaulan, kian besar gaya tarik menarik yang terjadi.

Masalahnya, tidak selamanya stamina seseorang berada pada posisi prima. Kadang bisa surut. Ketika itu, ia lebih berpeluang ditarik daripada menarik. Tanpa sadar, terjadi perembesan pengaruh luar pada diri seseorang. Pelan tapi pasti.

Suatu saat, orang tidak merasa berat hati melakukan perbuatan yang dulunya pernah dibenci. Dan itu bukan lantaran keterpaksaan. Tapi, karena adanya pelarutan dalam diri terhadap nilai-nilai yang bukan sekadar tidak pernah dicontohkan Rasul, bahkan dilarang. Sekali lagi, pelan tapi pasti.

Anas bin Malik pernah menyampaikan sebuah ungkapan yang begitu dahsyat di hadapan generasi setelah para sahabat Rasul. Anas mengatakan, “Sesungguhnya kamu kini telah melakukan beberapa amal perbuatan yang dalam pandanganmu remeh, sekecil rambut; padahal perbuatan itu dahulu di masa Nabi saw. kami anggap termasuk perbuatan yang merusak agama.” (Bukhari)

Tanpa terasa, kita jadi begitu asing dengan Islam

Pelunturan terhadap nilai yang dipegang seorang hamba Allah terjadi tidak serentak. Tapi, begitu halus: sedikit demi sedikit. Pada saatnya, hamba Allah ini merasa asing dengan nilai Islam itu sendiri.

Ajaran Islam tentang ukhuwah misalnya. Kebanyakan muslim paham betul kalau orang yang beriman itu bersaudara. Saling tolong. Saling mencintai. Dan, saling memberikan pembelaan. Tapi anehnya, justru nilai-nilai itu menjadi tidak lumrah.

Semua pertolongan, perlindungan, pengorbanan kerap dinilai dengan kompensasi. Ada hak, ada kewajiban. Ada uang, ada pelayanan. Tiba-tiba seorang muslim jadi merasa wajar hidup dalam karakter individualistik. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan, seorang dai merasa enggan berceramah di suatu tempat karena nilai bayarannya kecil. Sekali lagi, tak ada uang, tak ada pelayanan.

Firman Allah swt. “Dan sesungguhnya jika Kami menghendaki, niscaya Kami lenyapkan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, dan dengan pelenyapan itu, kamu tidak akan mendapatkan seorang pembela pun terhadap Kami, kecuali karena rahmat dari Tuhanmu….” (Al-Isra’: 86-87)

Tanpa terasa, kita tak lagi dekat dengan Allah swt.

Inilah sumber dari pelunturan nilai keimanan seorang hamba. Kalau orang tak lagi dekat dengan majikannya, sulit bisa diharapkan bagus dalam kerjanya. Kesungguhan kerjanya begitu melemah. Bahkan tak lagi punya nilai. Asal-asalan.

Jika ini yang terus terjadi, tidak tertutup kemungkinan, ia lupa dengan sang majikan. Ketika seorang hamba melupakan Tuhannya, Allah akan membuat orang itu lupa terhadap diri orangnya sendiri. Ada krisis identitas. Orang tak lagi paham, kenapa ia hidup, dan ke arah mana langkahnya berakhir.

Maha Benar Allah dalam firman-Nya, “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Al-Hasyr: 19)

 15 November 2009 jam 13:26

Pagi yang MENDUNG

Untuk yang kesekian kalinya aku curahkan kata hatiku pada catatanku yang kelam ini,
mataku sudah lelah setelah 7 jam berkutat di depan PC temanku...
Pagi ini sang mentari malas tuk menyambutku...
Entah apa ...
aku semakin terpuruk akan kenangan masa lalu.
Namun penyesalan demi penyesalan itu.., tak ada artinya,
melangkah dengan harapan yang pasti dan tujuan
yang nyata adalah sebuah pernyataan sikap sebagai manusia sejati,
tentunya hanya kepada Allahlah memohon segala hal penyelesaian masalah yang dihadapi.
Dengan akal yang telah Allah berikan,
tidak ada alasan untuk tidak mau memahami penciptaanNya.
Tidak ada alasan untuk tidak terus maju dalam mencapai cita-cita,
tidak ada alasan untuk terus berusaha mencapai RidhaNya,
tidak ada alasan untuk tidak mengakui keesaanNya,
dan masih banyak ketidakalasan yang tidak perlu dituliskan,
dan yang terpenting adalah terus menumbuhkan cinta kepadaNya.
Hanya Dialah cinta yang sejati.
Inilah semoga tulisan ini senantiasa bisa memberi motivasi bagi kita semua.. 

22 November 2009 jam 4:15
Tanggal 23 Desember 2009 saya mengalami kekecewaan lagi karena tidak diterima CPNS di Kabupaten Temanggung, kecewa berat dan merasa sedih yang agak berat juga tetapi semua berangsur normal mungkin karena telah terbiasa dengan gagal PNS, wah kok biasa padahal baru coba 5 kali ujian saja kalau dibanding dengan yang lainnya mungkin sudah ada yang mencoba sampai puluhan kali ya???
Semoga Kau memberi hamba yang terbaik Ya Allah….
Untuk teman-teman dimana saja yang diterima CPNS semoga menjadi jalan terbaik dan menjadikan rahmat bagi kalian, semoga kalian menjadi Pegawai atau abdi masyarakat yang amanah dan mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi semata karena katanya memang akan ada janji PNS yang mengutamakan kepentingan negara dan akan melayani masyarakat dengan sebaik-baiknya.. Semoga…
Kenapa akhir-akhir ini banyak yang menginginkan menjadi seorang PNS ??? mungkinkah dikarenakan mereka merasa tenang dengan posisi yang nyaman dari dari berbagai gangguan badai krisis dan juga merasa nyaman dengan job kerja dan penghasilan yang tetap ???
PNS merupakan cita-cita sebagian masyarakat Indonesia karena kemudahan-kemudahan dan fasilitas yang mereka dapatkan dan pergunakan, terlepas dari itu semua yang jelas untuk saat ini PNS menjadi lowongan kerja favorit bagi masyarakat umum…
Mungkin dengan PNS semua akan terasa mudah, mulai dari pengajuan kredit (hehe…) sampai upah atau gaji standart tanpa harus pusing di PHK kalau kolaps.
Bagaimanapun juga saya masih ada keinginan untuk menjadi PNS semoga saja akan terlaksana dan terwujud suatu saat nanti tetapi mungkin juga keinginan itu akan pudar apabila telah menemukan tempat nyaman yang lain…

subcan­cool
Tertunduk sedih ia. Hanya terdiam renungkan semuanya. Sedih dijiwanya begitu terasa ketika tiba-tiba jiwanya menyadari bahwa jiwanya bukanlah berada pada jasad yang tepat tuk mengungkapkan atau menunjukkan tentang apa yang dirasa oleh jiwanya. Lingkungan dunia dimana ia tinggal, telah disadarinya, sama sekali tak bersahabat pada apa yang namanya ‘cinta’ jika itu harus diungkapkan oleh jiwa-jiwa yang berjasadkan hawa.

Lama jiwanya tenggelam dalam diam. Masih bingung harus bagaimana dalam dunia yang begitu diskriminatif ini. Mungkin juga ia bertanya dalam hati, “Mengapa cinta hanya tuk diungkapkan oleh jiwa-jiwa yang berjasadkan adam?”, aku tak mengerti. Yang aku mengerti, dunia yang diskriminatif bagi hawa ini, nyaris membuatku gagal ciptakan lagi kehidupan cinta di relung hatiku, ketika jiwa yang aku cintai, ternyata juga mencintaiku, namun ia menyadarinya lebih dulu dan lalu ia terdiam dalam galau, bingung dan sedih karena keterbatasan kodrati yang ada pada jiwanya.

Meski kini, jiwaku dan jiwanya sudah menyatu, namun hawa dingin t’lah sempat aliri jiwaku ketika sadari bahwa seenggal waktu tersisa kan habis dalam kejapan mata. Untung saja, Sang Pemilik Jiwaku dan Jiwanya, memberikan lingkaran waktu yang baru bagi dua jiwa ini tuk menyatu, meski waktu datang (lingkaran waktu) ketika dua jiwa ini t’lah terpisah dalam ruang. Tak mengapa, biar jiwaku dan jiwanya belajar artikan ini semua dan bisa buat indah kehidupan cinta dihati jiwa-jiwa ini (ku dan nya) tak hanya tuk sesaat namun sampai akhir hayat.

Suatu Malam Yang Sepi

Matanya sembab. Merah. Bengkak. Sisa air mata masih terlihat. Baru saja dia menutup ponsel sederhananya. Kemudian meletakkannya begitu saja. Tanpa pernah mempedulikannya lagi. Terlihat waktu telah menunjukkan pukul 12 malam. Suasana sepi, senyap, tak terdengar suara sedikitpun. Terlihat pancaran mata penuh kesedihan. Entah apa yang dialaminya. Dia tidak terbiasa bercerita. Tidak pernah sedikitpun menceritakan masalah yang dihadapinya. Semua dia simpan rapat sendiri. Seorang diri.
Sepanjang malam dia menangis, menangkupkan kepalanya di atas bantal di sudut pembaringan. Tiada teman. Bermain dengan pikirannya sendiri. Berbincang dengan nuraninya. Percakapan batin. Matanya menerawang. Ntah kemana. Ditatapnya tembok putih di hadapannya. Juga foto-foto kenangan manisnya. Bibirnya bergetar. Mencoba tersenyum.
Tak lama dibentangkannya selembar sajadah. Dibasuhnya wajahnya dengan air. Namun mata itu, masih saja menyisakan kesedihan. Perlahan ditutupnya aurat. Masih dengan suara tangis tertahan. Perlahan mengangkat kedua tangannya, takbiratul ihram. Allahu Akbar. Lamat terdengar bacaan al fatihah dan surah Al Insyiroh. Dia meresapi ayat tiap ayat.

Bukankah kami telah melapangkan untukmu dadamu?
dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu,
yang memberatkan punggungmu?
Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu,
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,
sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.


Dia berhenti sejenak. Tangisnya kian menjadi. Sesudah kesulitan ada kemudahan. Janji Tuhannya, telah tersebut. Apa yang harus ditakutkan?? Dia melanjutkan ayat berikutnya.


Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.
Hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.


Hanya pada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. Bukan pada makhluk. Bukan pada manusia. Bukan pada siapapun. Dia begitu meresapi ayat terakhir. Suara sesenggukan masih terdengar.
Dia sadar, selama ini dia terlalu menggantungkan harapan pada manusia. Berharap yang muluk-muluk. Harap yang berlebihan terhadap sesuatu.
Kecewa. Kemungkinan itulah yang dia dapatkan.
Dalam sujud panjangnya malam itu, dia mengadukan segala kegalauan dan kegundahan hatinya pada Tuhannya. Masih dengan isak tangis. Menahan semua kesedihan dalam hatinya. Wajahnya basah. Air mata telah menganaksungai.
Hanya dia, dia yang di sana dan Tuhannya yang tahu permasalahan itu. Tuhan menjadi tempat curahan hati atas setiap masalah. Dia lah jawaban. Bukan yang lain. Tidak juga orang terdekat mereka. Tapi Dia. Allah azza wa jalla.

Salatiga, Akhir Januari 2010

Resensi Menggugat Sekolah Mahal

Salah satu kebutuhan pokok manusia modern dewasa ini, selain sandang, pangan, dan papan, adalah pendidikan. Di zaman ini, bersekolah merupakan sebuah keniscayaan. Sekolah pada dasarnya merupakan bekal seorang anak manusia di masa depan agar ia menjadi manusia dewasa yang berilmu, beradab, dan mandiri. Sejarah pun mencatat, perubahan sosial acap kali digerakkan oleh kaum terpelajar dan orang-orang terdidik yang memiliki tanggung jawab pada masyarakatnya. Pergerakan nasional kita yang berawal pada permulaan abad ke-20 merupakan akibat munculnya sejumlah kecil kaum muda terpelajar yang peduli pada nasib bangsanya, misalnya Dr. Sutomo, Dr. Wahidin Sudirohusodo, Suwardi Suryaningrat, Tirto Adi Suryo, Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan Tan Malaka. Mereka ini merupakan produk politik etis Van Deventer, yang membuat segelintir lapisan elite kaum pribumi bisa mengecap pendidikan dan pada gilirannya terbuka matanya melihat penderitaan bangsanya yang terjajah. Demikian pula dua kali pergantian kekuasaan yang ditandai tumbangnya rezim otoriter pada 1966 dan 1998 tak bisa dilepaskan dari peran gerakan mahasiswa. Di zaman merdeka ini, selayaknya anak-anak bangsa mendapat kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan diri dan berbakti pada bangsanya di masa depan melalui pendidikan yang membebaskan. Namun, kenyataan yang terjadi justru sebaliknya. Dunia pendidikan kita diruwetkan oleh sejumlah masalah, dari komersialisasi pendidikan, rendahnya tingkat kesejahteraan guru, penggusuran bangunan sekolah untuk dibuat lahan bisnis, praktek kekerasan dalam dunia pendidikan, hingga masalah pengangguran yang menghantui para lulusan sekolah. Salah satu masalah yang juga mengemuka dari sistem pendidikan kita dewasa ini adalah orientasi pendidikan kita yang cenderung hanya mendorong para lulusannya menjadi objek dunia industri dan kapitalisme global, bukannya menjadi subjek mandiri yang berilmu dan berwawasan luas. Hal-hal negatif dari sistem pendidikan seperti itu telah dicermati secara kritis oleh para pemikir pendidikan, seperti Ivan Illich dan Paulo Freire, dalam buku-bukunya yang telah diterjemahkan di sini, antara lain “Pendidikan Kaum Tertindas” (1984) dan “Politik Pendidikan, Kebudayaan, Kekuasaan dan Pembebasan” (2002). Sejumlah penulis lokal pun telah menulis kritik terhadap permasalahan pendidikan kita, antara lain Roem Topatimasang melalui bukunya “Sekolah Itu Candu” (1999) dan Francis Wahono dalam “Kapitalisme Pendidikan” (2004). Persoalan-persoalan kelam dalam dunia pendidikan kita, terutama menyangkut betapa mahalnya biaya pendidikan kita dewasa ini, kembali dibahas secara kritis dalam buku “Orang Miskin Dilarang Sekolah!” karya Eko Prasetyo. Membaca buku ini, kita disadarkan akan banyaknya kerancuan dan ketidakberesan dalam sistem pendidikan kita yang berujung tingginya biaya sekolah, sehingga banyak lapisan masayarakat berpenghasilan rendah tak mampu menjangkaunya. Akibat terburuknya adalah sulit terjadi lompatan sosial dan ekonomi dalam masyarakat, di mana mereka yang miskin terancam terus hidup melarat secara turun-temurun karena tak mampu menaikkan harkat hidupnya melalui pendidikan. Seperti tersurat dalam buku ini, pendidikan seharusnya bisa diakses dengan biaya murah. Pendidikan harus bisa dijangkau oleh rakyat miskin. Posisi orang-orang miskin yang selama ini terlantar perlu dibangkitkan, dan negaralah yang pertama kali perlu mengambil tanggung jawab dengan melakukan langkah-langkah struktural yang sistematis. Pendidikan harus bisa menjadi sarana peningkatan kualitas sumber daya manusia secara lahir-batin, yang pada gilirannya akan memajukan bangsa kita secara kolektif. Eko mampu melengkapi buku ini dengan begitu banyak data yang dikumpulkan dari berbagai sumber, termasuk kliping koran. Buku ini menjadi makin menarik karena dilengkapi ilustrasi komik yang bagus, cerdas, dan komunikatif. Eko juga tak hanya pandai mengkritik. Dalam bagian akhir buku ini, ia mengusulkan sejumlah langkah nyata untuk mewujudkan sekolah murah, antara lain dengan merealisasikan anggaran pendidikan 20% dari APBN, pemotongan gaji para pejabat tinggi yang dialokasikan pada dunia pendidikan, menarik pajak pendidikan dari perusahaan-perusahaan besar, serta melakukan investigasi dan tindakan tegas terhadap semua pihak yang melakukan korupsi atas anggaran pendidikan. Walaupun terkadang terasa agak provokatif, buku ini membuka mata kita bahwa ada sesuatu yang salah dengan sistem pendidikan kita, sehingga hanya orang-orang yang mampu secara ekonomi yang bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga setinggi-tingginya, dan bahwa ada sekian banyak penyimpangan yang perlu diluruskan dalam praktek dunia pendidikan kita selama ini.

Cinta Sejati

Cinta sejati Apakah cinta sejati itu? Tahukah kamu, apakah cinta sejati itu? Cinta sejati bukanlah ingin memiliki Cinta sejati bukan pula nafsu untuk menguasai Apalagi memanfaatkan Cinta sejati ialah kerelaan memberi, tanpa ingin dibalas Cinta sejati itu berkorban, tanpa mengharap imbalan Cinta sejati adalah menjaga, agar yang dicintai tetap dalam kebaikan Cinta sejati itu tekad melindungi, menjaga, mengasihi, memberi, berkorban Meski jiwa, maupun nyawa Demi kemuliaannya Dan di antara cinta sejati itu ... ada cinta yang menjadi penghulu segala cinta sejati Sebuah cinta sejati yang benar-benar sejati Cinta sejati yang hakiki Apakah cinta yang hakiki itu? Tahukah kamu apakah cinta yang hakiki itu? Cintamu kepada Rabb-mu.