poin

Kamis, Maret 15, 2012

Memperbaki diri, melangkah dan bertahan

Saat aku merasa sendiri dan sepi, tak seorangpun sudi menghela. Kau tak pernah tahu dan mungkin tak kan pernah tahu............. Aku menyadari bahwa saat ini kau sudah tidak lagi punya urusan denganku, begitu juga seharusnya denganku yang sudah tak punya andil apapun terhadapmu. Aku telah mendengar semua itu dari bibir dan hatimu. Aku sungguh telah mendengarnya. Hatiku gerimis setelahnya..... Betapa sungguh secepat itu namaku lenyap dari hati dan pikiranmu!!! Secepat itu juga kau menemukan matahari yang lain. Lima tahun lalu, bahkan kau baru saja berterus terang bahwa kau hanya punya dua matahari. Matahari sesungguhnya dan satu yang lain adalah "Aku". Tapi aku pikir, aku harus tahu diri bahwa sinarku tak cukup menerangi jalanmu. Aku yakin dan percaya bahwa sesungguhnya ada matahari lain yang bisa menerangi hatimu. Menghangatkan jiwamu.... Aku berdoa untuk kebahagiaanmu.... Kalau boleh aku berujar, matahari itu sesungguhnya telah ada di dekatmu. Tinggal bagaimana caramu untuk menarik sinar itu hingga dia bisa memberikan sinarnya padamu. Kau mungkin tak pernah tahu bahwa aku sudah merasa seperti itu sejak kau masih berada disampingku dulu. Semoga kau masih bisa menerimaku, masih bisa mengingatku atau aku sangat berharap bisa jadi asteroid bagimu. Meskipun harus mendapatkan sinar dari matahari untuk bisa menyinarimu. Meskipun tidak seterang mentari, tapi setidaknya aku bisa sedikit menerangi hatimu dan menyingkirkan mendung di kelopak matamu.Biarkan aku jadi seperti itu dan aku rela menyerahkan sinarku untuk mataharimu yang selanjutnya.Biarkan sinar itu hidup dalam raga orang lain daripada harus menderita tak berdaya dalam hatiku.Biar sinar itu hidup melalui orang lain, daripada harus menanggung sakit dan bersalah dalam jiwa ragaku. Semoga kau tahu bahwa sinar itu masih hidup dan menunggumu. Dan semoga kau tahu bahwa aku pernah mencintai seseorang hingga aku menangis. Aku hidup bukan hanya untuk menunggumu,.... masih banyak mereka yang sama sepertiku. Tugasku adalah,.... Memperbaki diri, melangkah dari bertahan menebus kesalahanku di masa lalu dan berbagi dengan sahabat, teman, saudara untuk membantu menguatkan mereka agar tetap mampu bertahan dalam hempasan gelisah yang menggengam jiwa mereka!!! Aku berusaha walau belum tentu bisa, namun akan aku coba,..... Aku tak mau ada orang-orang sepertiku yang dulu, tersudut tertunduk kaku tanpa bisa beranjak dari penat karena tiada teman yang menguatkan dan berbagi kisah namun amanah !!! Rasa sakit & pahit itu menjadikan kekuatan untuk ku, lewat tulisan dan goresan tuk berbagi rasa dalam kata,..... Berharap ridlo Allah Lillahita’ala.... InsyaAllah,... ... Kita belajar bersama membenahi diri sedari dini untuk masa depan yang lebih baik, karena pembinaan karakter Rumah Tangga nantinya TIDAK TERLEPAS dari pendidikan masa muda kita terutama dalam menyikapi setiap masalah, tingkat kedewasaan dan stabilitas emosi dan cara pandang serta pola fikir kita sehari-hari. BUKAN Ijab Qabul yg jadi fokus utama, namun bagaimana mempertahankan keutuhan & keharmonisan Rumah Tangga Nantinya yg pasti penuh masalah & problematika, dan BESAR / KECIL nya masalah itu Tergantung dari mana kita memandangnya. INGAT !!! Mempertahankan lebih sulit daripada mendapatkan.

Minggu, Februari 19, 2012

Nasib Guru Honorer


Seperti biasa, setiap hari saya bangun lebih awal lalu menyiapkan segala sesuatu untuk bekal di kelas nanti. Buku penuntun pembelajaran, silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran, serta absensi kehadiran siswa. Seperti layaknya Pegawai Negeri Sipil yang sudah harus duduk manis di meja masing-masing dalam ruang guru sederhana, saya pun demikian walau sebenarnya tidak tersedia meja khusus untuk saya dalam ruangan sempit ini.

Bel berbunyi pukul delapan tepat, saya juga bergegas menuju kelas. Mengajar salahs satu pelajaran eksakta atau sains atau lebih tepatnya ilmu pasti yang dianggap paling rumit ini. Waktu empat puluh lima menit satu jam pelajaran bukan perjalanan yang panjang. Rasanya sebentar sudah selesai, bahkan belum dua bahkan lebih soal perhitungan rampung dijawab.


Berdiskusi dengan siswa tentu bukan hal yang mudah, apalagi saya masih dalam kategori guru honorer yang notabennya dianggap berilmu sedikit dan kurang pengalaman. Ada juga siswa yang sering pelonco bahkan sebagian guru yang sudah pegawai malah meremehkan kemampuan guru honorer. Saya tidak ambil pusing, anggapan itu biarlah menjadi pemanis sang pembicara. Tugas saya berbicara di depan kelas, bersama siswa yang duduk manis mendengarkan saya, siswa senang dan mengerti, saya akan puas dan tersenyum bahagia.


Tugas saya tidak jauh berbeda dengan guru yang sudah pegawai. Saya mengajar, datang tepat waktu, mengajai sesuai kurikulum dan harus ikhlas. Terpenting easy going saja dan selanjutnya enjoy.

Tantangan memang selalu ada, apalagi jika sudah berhadapan dengan akhir bulan. Guru tetap atau pegawai dapat gaji saya malah gigit jari. Belajar ikhlas memang tidak sebanding dengan mata bengkak tiap malam menyelesaikan soal rumit untuk bahan ajar keesokan harinya. Tetapi di saat sudah begini, saya harus tegar dan belajar ikhlas lebih sabar lagi.


Gaji guru honor tidak ada. Kabarnya begitu. Namun saya manusia yang butuh makan dalam keseharian, jika sebuah sekolah membutuhkan tenaga pengajar, sekolah juga harus sudah siap memberikan imbalan yang sesuai sebelum pegawai pemerintah datang mengajar. Kita tidak bisa melupakan pepatah yang mengatakan hidup ini tidak gratis, nah itu juga berlaku dalam setiap pekerjaan. Ikhlas untuk mengajar bukan berarti harus ikhlas tidak dibayar sepanjang satu semester bukan?

Biasanya gaji guru honorer dibayar setiap akhir semester, itu pun kalau ada dan tidak seberapa dengan jerih payah mereka selama mengajar. Sangat tidak sebanding dengan kerja keras mereka, mengajar dengan ikhlas, sabar menghadapi siswa, belajar lagi yang kurang dimengerti agar tidak salah persepsi pada siswa.

Saya hanya heran, dana pendidikan yang sekian banyak itu dibawa kemana. Ada dana ini, dana itu, tapi rasanya tidak terperhatikan dengan sangat teliti pemakaiannya. Jika sebuah sekolah tidak cukup guru, alternatif lain adalah memakai guru honor. Seharusnya pemerintah yang berwenang memperhatikan hal ini, jika memang tidak dibayar pemerintah harus menempatkan guru pegawai yang cukup di salah satu sekolah atau mengalokasikan dana untuk guru honor ini.


Saya tidak tahu, mungkin saya yang salah karena tidak tahu ada dana yang khusus untuk guru honor ini atau ada masalah lain. Tapi, satu semester sudah berlalu, gaji saya sebagai guru honor juga belum cair juga. Saya harus bagaimana. Saya butuh makan, butuh beli keperluan sehari-hari. Sama seperti Anda, orang lain, juga pegawai negeri yang tiap bulan dapat gaji.

Minggu, Februari 12, 2012

Impian Menikah

Sebelumnya... Yuk, kita mulai dengan membaca lafadz basmalah; Bismillahirrahmaanirrahiim.

Semoga tulisan yang kusajikan ini tidak mengundang prasangka-prasangka negatif, malahan seharusnya jadi doa buat kita semua. Untuk yang belum nikah semoga disegerakan, dan untuk yang sudah menikah semoga bisa menularkan virus menikah pada teman atau saudaranya yang lain. Aaamiin..



Siapa sih orang yang hidup di dunia ini gak punya impian??? Hmm... Kalau aku ketemu orang yang gak punya impian sama sekali rasanya ingin kusadarkan dia untuk segera bangun dari tidur panjangnya. Sebab... Percuma aja kalau hidup itu gak punya impian sama sekali. Mengisi hari dengan kekosongan yang tiada arti, hidup pun jadi terasa pendek sekali.

Nah, untuk yang punya impian... Apa sih impianmu saat ini? Punya kerjaan, jadi PNS, lulus kuliah, lanjutin S2, pergi ke luar negeri, punya mobil dan sebagainya. Wew, banyak ya ternyata... But, satu hal yang rasanya kalau dipikir-pikir itu juga termasuk impian kita semua namun sulit sekali kita mengungkapkannya bahkan terasa tabu untuk mengangankannya. Apakah itu? Yaitu MENIKAH, siapa yang pernah punya impian untuk menikah? Pasti semua enggan menjawab, malu-malu kucing padahal sih dalam hati seakan mengangguk-ngangguk. Hehe... Ya khan?


Kenapa juga kita malu untuk memiliki impian yang berbeda seperti kebanyakan yang lainnya. Disaat yang lain mengejar status sosial, jabatan, harta dan segala macamnya.... Munculah kita dengan membawa bendera impian yaitu impian untuk segera menikah semata-mata mengejar ridha Alloh dan dalam rangka menjaga kehormatan diri. Subhanalloh... Salut kalau ada yang memiliki niatan seperti itu.

Hm... Baiklah. Kali ini aku mau bicara mengenai impianku. Salah satu impian dibalik salah yang lainnya hehe... yaitu Menikah. Sudah tahu dong bahwa menikah merupakan sunnah yang diagungkan oleh Alloh? Al-Qur'an pun menyebut pernikahan sebagai mitsaqan-ghalizha (perjanjian yang sangat berat) yang merupakan nama dari perjanjian yang paling kuat di hadapan Alloh.


Mengapa disebut sebagai mitsaqan-ghalizha? Itu karena Alloh menjadi saksi ketika seseorang melakukan akad nikah. Setiap jalan menuju mitsaqan-ghalizha dimuliakan oleh Alloh. Dan tentulah Islam memberikan penghormatan yang suci kepada niat dan ikhtiar untuk menikah.

Menikah adalah masalah kehormatan agama, bukan hanya kehormatan diri yang terkait disini. Ia bukan pula sekadar legalisasi penyaluran hubungan biologis dengan lawan jenis. Karena menikah merupakan amanah Alloh dan sangat tinggi derajatnya. Menikah berarti menyempurnakan setengah Ad-Dien.

Kenapa mesti malu jika memiliki impian untuk bisa menyegerakan pernikahan? Padahal jika kita menyegerakan nikah insya Alloh keluarga kita akan penuh barakah. Tetapi jika yang kita lakukan adalah tergesa-gesa, kekecewaan lebih mudah didapatkan daripada kebahagiaan. So, nikah disini tentu perlu dengan perencanaan yang matang bukan sekadar 'loe suka-gue suka, yuk nikah!', bukan yang seperti itu melainkan pernikahan yang didalamnya ada barakah karena tidak sembarang mengambil langkah. Kalau sudah mendapat berkah, insya Alloh banyak melahirkan keutamaan, termasuk tumbuhnya sunnah-hasanah (kebiasaan baru yang baik).



Alloh akan melimpahkan ridha-Nya kepada orang yang menyegerakan nikah. Mereka yang menyegerakan nikah atau membantu orang untuk menyegerakan nikah, insya Alloh akan mendapat rahmat dan perlindungan Alloh kelak di yaumil-akhir.

Dan yang terpenting juga... Sederhana dalam proses dan sederhana dalam pelaksanaan merupakan jalan besar menuju keluarga yang barakah, sakinah, mawaddah wa rahmah. Sedang mempersulit proses pernikahan dapat membuka pintu-pintu mudharat. Mempersulit proses pernikahan melapangkan jalan fitnah dan mafsadah (kerusakan) masyarakat sebab barangkali jika tidak melalui pernikahan, banyak yang menyalurkan hasrat seksualnya bukan pada tempatnya. Na'udzubillah!



Itulah mengapa Alloh menjadikan pernikahan untuk tujuan pemenuhan dorongan instink dan syahwat seksual. Kalau bukan karena syahwat yang menggelora di dalam diri setiap laki-laki dan perempuan, maka siapa pun tidak akan pernah berpikir untuk menikah! Dan dengan menikahlah dapat membangun keluarga muslim yang terhormat, dan menyemarakkan dunia dengan keturunan dan anak-anak yang saleh.
Masih ragu juga untuk segera menikah? Bagaimana sih membedakan antara 'segera' dan 'tergesa-gesa'? Rasulullah menasihatkan, "Mintalah fatwa dari hatimu. Kebaikan itu adalah apa-apa yang tenteram jiwa padanya dan tenteram pula dalam hati. Dan dosa itu adalah apa-apa yang menimbulkan keraguan atau kecemasan dalam jiwa dan hati, walaupun orang-orang memberikan fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya."



Jika menikah begitu banyak keutamaannya, maka apa yang masih dapat mempersulit pernikahan? Bukankah menghalangi pernikahan merupakan dosa besar? Bukankah azab Alloh itu sangat keras?


"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang yang berfikir." (QS. Ar-Rum : 21)



Kalau kita telah memiliki tekad ('azzam) yang kuat, mudah-mudahan Alloh menyegerakan terlaksananya impian kita tersebut... Impian besar yang penuh dengan perencanaan dan kematangan sehingga kelak kan memberi pernikahan yang barakah dan dipenuhi ridhaNya. Insya Alloh :)

Doakan yaa.,...


Sabtu, Februari 11, 2012

Albumku dengan Sebagian Cerita

Masjid Agung Jawa Tengah waktu mengantar lomba altletik dan Volly tingkat Karesidenan Semarang. Dibawah Bimbingan Guru Penjaorkes Abdul Wakhid, S.Pd dan Kep.sek Tego Prasetyo, S.Pd., M.Pd Alhamdulillah setiap tahun selalu mendapat juara


Sekolah Dasar tempatku mengabdi yang sudah 8 Tahun di SDN Sidorejo Kidul 03,Walaupun terletak di pinggiran kota tetapi prestasinya tidak meragukan loohh., Dengan semangat kerja yang tinggi melahirkan generasi penerus yang santun, berkarakter, tertib, unggul dan berprestasi

Foto diambil 2 tahun lalu waktu masih ngelesi Gista. Makin gendut ajanie mas Abie, owh tak apaalah yang peting sehat dan selalu senyum,,, hehe tapi bukan senyum sendiri looh.,..


Satu Visi dan misi dalam mengemban tugas mulia, foto diambil Jumat Awal September 2011 setelah senam Indonesia Sehat bersama siswa. Seragame baru, nie yeee ... xixixix eh ngapain liat2 ...


April 2011 Kenangan bersama seseorang di pantai Marina Semarang, seseorang itu telah meninggalkanku untuk masa depan yang lebih baik. Gak usah diterusin.. privasi kalie yee,, bukan untuk konsumsi publik laahhh... masa lalu biarlah berlalu, jadikan pelajaran tuk melangkah lebih baik.


Pertengahan Juni 2008 Kantor SD Sidorejo Kidul 03 pindah ke Rumah DInas Kepala Sekolah karena mendapat Bantuan Gedung dan Mebileir dari DANA ALOKASI KHUSUS , MEBILER DAN PUSAT SUMBER BELAJAR pemerintah kota Salatiga,, yaaah namanya juga masih wiyata bhakti pakai seragam kheki kirain dah PNS ,, mboten np2 budhe. alon2 penting Optimis...



Mengikuti Sholat Idul Adha 1432 H di Alun2 kota Salatiga bersama Pengarang Novel Ketika Cinta Bertasbih Habiburrahman El Shirazy, Lc., Ma lulusan Universitas Al Azhar Kairo Mesir. wah dik Ulin mekso foto2 yaa



Nampang dulu... habis beli pulsa di Shifa Cell Jl. Marditomo Sidorejo Kidul Salatiga
Konter itu kini sudah tutup. Mas Nanang sahabatku kini sedang bekerja di Bandung dan gak buka lagi.,. ditempat ini berkumpul sahabat chat anak2 Salatiga 1.


Bersama temen2 mig33 Salatiga 1 di Yogya Wisata, tahu berapa aku lupa yang jelas aku masih kuruuusss n masih jomblo.. wkwkwkwkw



Masih kurus ya? kapan nih foto ? ... yee di rumahku yang sangat sederhana namun bahagia bersama kedua orang tuaku dan adikku. Kesederhanaan dalam hidup adalah prinsip kami



Akhir Tahun 2008, mengikuti test CPNS di Wonogiri bersama mas Abidin Sholeh, Syafiq, Amien Tony, Yeni Dwi Astuti, tetapi yang lolos cuma mas Abidin.. ya namanya juga usaha, yang tak boncengin malah nasibnya beruntung. Kini tingal di Wonogiri mengajar 2 SD Negeri dibawa serta keluarganya. Masih ingatkah kau kawan? bila membaca tulisan ini kamu pasti takka pernah lupakan aku.


di TPQ Al Chira tempatku mengajar anak2 di waktu sore hari. ,,

BERSAMBUNG

Minggu, Februari 05, 2012

Nasihat Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah

Apabila seorang mukmin menghendaki supaya Allah Subhanahu wata’ala menganugerahinya bashiroh (ilmu yang mendalam) di dalam agama, pengetahuan akan sunnah Rasul-Nya Shallallahu’alaihi wasallam dan pemahaman akan kitab-Nya dan diperlihatkan hawa nafsu, bid’ah, kesesatan dan jauhnya manusia dari shirothol mustaqim, jalannya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan para sahabatnya. Apabila ia menghendaki untuk menempuh jalan ini, maka hendaklah ia persiapkan dirinya untuk dicemooh oleh orang-orang bodoh dan ahlul bid’ah, dicela, dihina dan ditahdzir oleh mereka. Sebagaimana pendahulu mereka melakukannya kepada panutan dan imam kita Shallallahu ‘alaihi wa Salam.

Adapun apabila ia menyeru kepada hal ini dan mencemooh apa-apa yang ada pada mereka, maka mereka akan murka dan membuat makar kepadanya…

Sehingga dirinya menjadi orang yang :
Asing di dalam agamanya dikarenakan rusaknya agama mereka
Asing di dalam berpegangteguhnya ia kepada sunnah dikarenakan berpegangnya mereka dengan kebid’ahan
Asing di dalam aqidahnya dikarenakan rusaknya aqidah mereka
Asing di dalam sholatnya dikarenakan rusaknya sholat mereka
Asing di dalam manhajnya dikarenakan sesat dan rusaknya manhaj mereka
Asing di dalam penisbatannya dikarenakan berbedanya penisbatan mereka dengannya
Asing di dalam pergaulannya terhadap mereka dikarenakan ia mempergauli mereka di atas apa yang tidak disenangi hawa nafsu mereka

Kesimpulannya: ia adalah orang yang asing di dalam urusan dunia dan akhiratnya, yang masyarakat tidak ada yang mau menolong dan membantunya.

Karena dirinya adalah :
Seorang yang berilmu di tengah-tengah orang yang bodoh
Penganut sunnah di tengah-tengah pelaku bid’ah
Penyeru kepada Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya Shallallahu’alaihi wasallam di tengah-tengah penyeru hawa nafsu dan bid’ah
Penyeru kepada yang ma’ruf dan pencegah dari yang mungkar di tengah-tengah kaum yang menganggap suatu hal yang ma’ruf sebagai kemungkaran dan suatu hal yang mungkar sebagai ma’ruf.

Senin, Januari 23, 2012

Aku Bangga Tulisanku Nol Komentar

Blog ku Nol Komentar, hehehe hebat kan?? Biasa aja deh sob, .. Hkzzhkzz huahuahua sebenarnya sedih sob T_T, Aneh deh padahal tu kotak komentar jelas terlihat, kenapa ga ada yang komentar??. Barang satu aja sehari ini mah sebulan 1 aja belum tentu, padahal ini blog Dofollow loh (mungkin *red).

Kalau begitu dengan bangga ciungtips luncurkan posting :

Cara Berkomentar di Blog berikut langkah langkahnya :
1. Baca artikelnya dengan seksama dan dalam tempo yang selambat-lambatnya, maksudnya sobat mengerti inti artikel tersebut ini untuk menghindari '' Jaka sembung bawa golok alias gag nyambung kok komen di blog'' xixixi..
2. Sesuda di baca, sobat melihat kotak dengan tulisan '' Poskan Komentar'' nah ini kotak gunanya untuk sobat curahin unek-unek,saran ke si empu blog. Positif think bebas jebakan Betmen kok ^_^
3. selesai menulis komen,lanjut ke kotak di bawahnya dengan tulisan '' poskan sebagai'' nah sepertinya disini pengunjung sering bingung. Sebenarnya mudah saja kok tinggal pilih saja
*Live Journal
*AiM
*TypePad
*Wordpress
*Open Id
#nama/url
#Anonymouse
Jika sobat tidak punya akun yang bertanda *,pilih saja nama/url masukan nama mu, kurang praktis?? Ya udah pilih anonymuse aja deh.
4. sesudah pilih-pilih profil komentar klik ''Pos kan Komentar''
5. Dan Trararararamm Komentar mu sudah tertinggal di blog, biarin si empu nya baca.
6. Selanjutnya Klik iklan yang tersedia.. Eh ups ini mah ga ada sangkutan nya deh xiixixii cuman sampai nomor 5 tips nya juga :p

Intinya berkomentar di blog itu tidak ribet kok,mudah saja. Blog itu interaktif loh sob. Ada Penulis/Narablog ada pembaca.
Nah bagaimana seorang Penulis tau apakah tulisanya jelek,ancur,hina,dina (eh cukup-cukup ini mah ngehina xixiixi) kalau tidak ada respon dari pembaca???. Stag terus dong tuh penulis,gag ada tamparan yang bisa melecut semangatnya untuk lebih baik lagi dalam menulis..

So komen please, tuh space komentar masih kosong.. ^_*

Senin, Januari 09, 2012

Pernyataan-Pernyataan Memilukan Tentang Jilbab

1. “Jilbab itu kan dipake khusus buat shalat atau ke pengajian. Kalau di tempat umum ya mesti dibuka. Bego aja kebalik-balik”.

2. Tidak hanya sampai di situ, si A menyamakan jilbab dengan swimsuit. Pakaian itu penggunaannya bersifat situasional. Kalau mau pergi mengaji ya pakai jilbab. Kalau mau berenang ya pakai baju renang. “Masa renang pake mukena,” tukasnya lagi. “Segampang itu kok nggak paham,”

3. A juga mengatakan pendapat yang bisa mengundang kontroversi, yakni tentang alasan orang beragama. “Kenapa orang beragama? 1) karena miskin; 2) karena rentan dan merasa terancam,” ujarnya…

Tentang pernyataan pertama; kewajiban berjilbab Allah utarakan dalam Al-Quran secara umum, tidak terikat dengan momen tertentu; khusus untuk di pengajian misalkan. Yang ada malah sebaliknya, ketika shalat diwajibkan, jilbab (menutup aurat) menjadi salah satu pakaian khusus (ketentuan khusus) yang tidak bisa tidak, harus dipakai saat shalat. Jadi, siapa yang kebalik-balik?? Yang benar itu dari umum ke khusus, bukan dari khusus ke umum.

Jilbab dan pakaian renang adalah perbandingan yang tidak jauh berbeda dengan perbandingan antara basket dan main catur, meskipun kedua-duanya sama-sama olah raga, tapi rule of the gamenya berbeda, jika Allah syariatkan jilbab untuk dipakai di semua tempat, maka pabrik pembuat pakaian olah raga membuat pakaian renang khusus untuk di tempat renang. Adat manusia juga tidak membenarkan adanya seseorang yang ceramah di atas podium dengan memakai pakaian renang bukan? sebaliknya, tidak ada seorang pun yang protes jika seorang wanita berjilbab mengisi seminar di depan orang banyak, justru sebaliknya, akan banyak yang protes jika wanita tersebut memakai pakaian “ala kadarnya” ketika mengisi seminar.

Tentang pernyataan ketiga: justru kenyataan yang terjadi saat ini adalah, orang miskin tidak sedikit yang stress, gila. Kenapa gila? salah satu faktornya karena tidak beragama. Agama bukan pabrik yang di situ ada untung rugi materil; yang beragama kaya, yang tidak miskin! tidak selalu begitu. Yang beragama aman dari ancaman, yang tidak, selalu terancam, tidak selalu juga! Yang tepat adalah, kebanyakan orang menjadi begitu religius karena SADAR, sadar akan adanya pencipta, sadar akan adanya nikmat surga dan siksa neraka, sadar akan dirinya yang bukan siapa-siapa. Beda loh, sadar dengan terancam!!


Setidaknya, jilbab adalah salah satu indikator akan kesadaran beragama seorang wanita. Jilbab tidak mengekang wanita, yang ada malah menjaga, namun terkadang sebagian memaknai menjaga dengan mengekang. Semoga Allah selalu membimbing kita untuk berfikir benar, bukan hanya bagus dan sensasional. Wallahualam bis shawab.

Salatiga, 9 jANUARI 2012
Buat seseorang yang dulu pernah berjilbab kemudian menanggalkan jilbabnya. Moga Allah memberikan hidayah

Minggu, Desember 25, 2011

Tahajud Cinta

Aku kembali hilang,kosong...
betapa aku nelangsa
tak mampu berkata,tak jua menerima
wahai kekasih yg menjadi pemilik kerajaan hatiku
sungguh hatiku berdebu !
Sujudku tak mampu menghapus debu yg menempel di keningku.

Kemanakah ia pergi,
Kau kemanakan...?
aku tanggungkan sakit dan duka,
jika cinta itu candu,
berikan penawar kesakitan dan kegelisahan,
ajarkan tentang merelakan

Engkau ijinkan aku menyaksikan,
Engkau tumbuhkan dan pisahkan,
Kekasihku,tempat sujudku...
beningkanlah aku,
ajarkan aku untuk tahu diri
pupuskan jelaga dalam kalbuku.

Jika kerlipku haram ku pendarkan,
jiwaku pecah terbelah,
biarkan sujudku padaMu
mengutuhkannya...

Kularikan aliran sungai kecilku,
pada sajadah terbentang...
disudut tersunyi,
di sepertiga malamku,
menepikan segala lara kehilangan tak terperi
kucari kerelaanMu
mencari kelapangan meski
jalanku yang tak mengarah padanya.

Engkau Muara cinta dan kesetiaan
tiupkan setitik terang,
pada sudut terdalam hatiku
ijinkan kuberjalan dalam jubah keikhlasan...


Salatiga 26 Desember 2011

hemm

lama gak posting di blog..
*kurang lebih 15 hari.
Sorry ya blog, sekarang Saya benar-benar sibuk (what?!), jadi gak bisa buka notebook, kalo online di hape..
Kapan-kapan aja.
Lagipula ni blog sepi, jd kalaupun posting udah kaya orang ngomong sendiri.
It's okay, Saya lagi gak nyaman dengan godaan wanita

Kamis, Desember 15, 2011

Puing-puing Kekecewaan

“Aku tidak tahu perasaan seperti apa yang berkecamuk dalam dada dan pikiran aku ketika mengingat dirimu. Hari ini 15 Desember 2011 hari Ulang Tahunmu, meski belum 1 tahun aku mengenalmu lewat dunia maya hingga akhirnya menjalin kisah cinta. Aku ingin marah, aku juga ingin memaki kamu hingga puas dan ingin meluapkan segala emosi aku di hadapanmu. Mengingat semua yang telah kita lewati, rasanya tidak mungkin bila akhirnya kamu mengabaikan aku. Harusnya kamu tidak melakukan itu padaku, harusnya kamu tidak meninggalkan aku dalam keadaan serba tidak pasti. Kamu bagiku pecundaaannggg….”
Ketika membaca catatan di atas, luka itu seperti tergores lagi. Hati ini juga seperti merintih, rasanya memang tak mudah. Mengingat semua yang sudah terjadi tujuh bulan silam, ketika mengenang kebersamaan dengannya. Namun jika mengingat peristiwa bulan Mei, aku merasa semua kebahagiaan yang kumiliki lepas. Hilang, dan yang tersisa hanya perih di dalam dada.
Memang terhitung sangat singkat aku dan dia, hanya empat bulan. Yah, empat bulan! Bukankah membekas tidaknya sebuah hubungan di hati setiap orang tidak ditentukan oleh seberapa lama ia menjalani hubungan tersebut. Bisa jadi hanya sehari, namun ia tidak bisa melupakan peristiwa tersebut seumur hidupnya, termasuk dalam cerita film”August Rush”. Sayangnya kisah cintaku tidak sebaik dalam film itu. Aku ditinggalin dan aku diabaikan, alasannya sangat klasik “Tidak ada kecocokan lagi”. Alasan seperti apa itu, pikirku. Tapi aku berusaha menghormati keputusannya. Meski sebenarnya, dia tidak pernah tahu bahwa aku sudah benar-benar jatuh cinta padanya.
“Tidak ada kecocokan lagi”. Gumamku!
“Tidak ada kecocokan lagi”. Gumamku lagi!
Rupanya aku sedang dipermainkan, aku berusaha untuk mencerna kalimat terakhir yang keluar dari mulutnya ketika itu. Aku berusaha mencari ketidak cocokan yang mana yang membuat aku sama dia bisa berakhir seperti ini. Sekalipun aku berusaha mencari dan mencari, aku tetap tidak menemukannya karena sesungguhnya ketidakcocokan kita berdua ada pada dirinya sendiri. Dia yang membuat semuanya menjadi tidak cocok. Ketika ada pria lain yaitu Antok yang telah membuatnya lebih merasa hebat. Bagiku, dia kini sama asing

Jumat, Desember 09, 2011

Tingkat Keimanan

Tingkat Keimanan seeorang kepada Penciptanya bisa dibagi menjadi 4 ( empat ) tingkatan, yakni :

1. Tingkatan pertama seseorang beriman kepada Penciptanya, atas dasar KATANYA ( CENAH ) ;
Pada tingkatan ini jiwa seorang manusia hanya beriman menurut ceritera orang lain, seperti
Kata Nabi, Kata Wali, Kata Guru, Kata Orang tua, Kata Kitab dll.
Iman kepada Penciptanya ini, tingkatannya bisa maju juga bisa mundur, tergantung sering tidaknya Dia
bertanya dan bermusyawarah serta pengajian atau membaca.

2. Tingkatan kedua, seseorang beriman kepada Penciptanya, atas dasar YAKIN
Pada tingkatan ini jiwa seseorang manusia sedikit lebih maju keimanannya karena dia punya tingkatan
pertama, ditambah dengan yakin ada ciptaan2 lainnya selain pencipta memciptakan dirinya.

3. Tingkatan Ketiga, seseorang beriman kepada Penciptanya, atas dasar AINAL YAKIN
Pada tingkatan YAKIN ini jiwa seseorang sudah melihat Penciptanya secara penglihatan nyata, melalui
jalan SULUK yang dia kuasai dan atas Ridho Penciptanya dia berjumpa dan biasanya jarang ada
percakapan lisan bathin, karena dirinya sangat terpana dan terpesona.

4. Tinggatan Keempat, seseorang beriman kepada Penciptanya, Atas dasar HaqqulYAKIN
Pada Tingkat Haqqul YAKIN ini, adalah segala pucak dari puncak pertemuan JIWA seseorang
dengan pencipatanya, sehingga kerinduan akan pertemuan selalu menggandrunginya, karena Tingkat
Keimnannya sudah memuncak bahwa dirinya ada yang mencintainya yang hakiki.

Tulisan ini mohon di benarkan kalau ada kesalahan .. terimakasih

Selasa, November 29, 2011

Kesuksesan, Ketekunan dan Semangat Hidup

Semalam kurang tidur, pagi ini harus melanjutkan aktifitasku sebagai GTT di Sekolah negeri itu. Genap 8 tahun aku mengabdi . Semoga saja di tahun 2012 nanti ada pencerahan untuk honorer seperti aku yang ingin sekali diangkat CPNS sesuai janji Pemerintah


Tak apalah jam mengajarku jadi hilang karena keadaan, saat ini aku bekerja sebagai admin/tata usaha/ penulis karena teman-teman PNS meminta jam mengajarku kembali untuk pengajuan sertifikasi. Yah maklum aku hanya sebagai guru “gajulan” yang seikhlasnya mengajar bidang studi yang di butuhkan sekolah. Hanya dengan gaji 250ribu Alhamdulillah aku bisa mencukupi kebutuhanku, tapi saat ini belum bisa membantu orang tua, kalau malam aku ngelesi / privat yang alhamdulillah bisa mencapai 750ribu kalau insentif GTT cair ya bisa mencapai 1juta/bulan, Rasanya aku ingin pindah aja ke sekolah swasta biar bisa ikut program pemerintah yaitu sertifikasi. Sayang sekali GTT di sekolah negeri harus punya SK Bupati / Walikota. Ahh.. seaindainya saja aku di Madrasah Ibtidaiyyah seperti sebelumnya dibawah yayasan tentunya aku bisa sertifikasi seperti teman-teman seangakatanku . Tapi keinginan itu terlambat sudah, apa artinya pengabdian selama 8 tahun harus digantikan dengan keputusan konyol sepeti itu.


Adalah bu Anik., putri dari bapak K. Mohadi (Alm) yang sekarang sudah sukses. Potret keluarga yang sakinah dengan 4 orang anak yang lucu dan cerdas. Yang hidup penuh liku dan cerita-cerita penuh hikmah. Dari cerita beliau semalam dapat kusimpulkan sebagai berikut :

1. Harta dunia bukan tujuan, carilah apa yang ada semata-mata untuk meraih ridho Allah dengan ilmu yang dimiliki. ( Man arofa nafsahu faqod arofa robbahu)

2. Bersedekahlah semampunya niscaya Allah akan mengganti dengan berlipat ganda. ( Dulu hanya punya warung sup buah, sekarang, bisa punya usaha warnet dan toko helm)

3. Kesuksesan berawal dari ketekunan dan semangat pantang menyerah satu sama lain. (Dulu tidak punya apa-apa sekarang bisa punya 2 mobil dengan kerja keras suaminya di Kalimantan yang mendirikan Koperasi Bina Usaha)

Waktu sudah siang, rasa kantukku mulai datang. Tapi belum jam pulang., Semalam termenung dalam sajadah panjangku sampai menjelang waktu subuh. Bagai bahtera meniti samudera, terombang-ambing ombak, bergulung-gulung menggunung. Gunung karang menghalang, topan dan badai siap menerkam. Aku tak peduli, aku akan terus berlari, kan ku ganyang semua penghalang, Biar dicaci, biar dimaki, biar dihina biar dibenci, aku tak peduli, asalkan kebenaran selalu menyertai, asalkan Tuhan selalu meridhoi. Allahu Akbar !!

Sidorejo Kidul, Akhir Nopember 2011

Tanggung Jawab Siapa?


Mendung bergelayut layu, tiba-tiba hujan lebat mengguyur kota Salatigaku tercinta. Kulalui jalan Kota Salatiga yang licin dengan sepedamotor bututku, menuju kampung Jetis Wetan tempat ku mengajar pada sebuah Lembaga Pendidikan Al Qur`an binaan Ust Turjaun. Masih ada kewajiban mengajar di TPQ Al Chira karena Ust. Muhyiddin Anwar Al Hafidz sedang sakit, biasanya murid TPA ku mencapai 25 anak, tapi kini yang berangkat Cuma dua anak. Ya Bunga dan Linda, mereka kelihatan cemas menungguku.

Sesampai di TPQ kulihat mereka bersedih, ada apa dik ? tanyaku. Mereka kecewa karena teman-teman yang lain tidak datang. Masjid semegah dan di lantai dua TPQ itu sangat sepi. Anak-anak yang lain sedang tertidur pulas dengan mimpinya setelah seharian sekolah di SD / MI masing-masing. Mungkin mereka berharap TPQnya libur karena hujan deras.


Orang tua mana yang tidak bangga jika kita memiliki anak sholeh/ah yang taat pada Allah dan berbakti pada kedua orang tuanya. Tapi sayangnya mendidik anak agar menjadi anak sholeh/ah bukan pekerjaan mudah bagi orang tua saat ini. Para orang tua dituntut untuk mencurahkan perhatian dan pengorbanannya demi si buah hati tercinta.

Lahirnya seorang anak sholeh/ah bukan tiba-tiba saja muncul, tapi perlu ada pendidikan dan penanaman sejak usia dini. Ibarat tumbuhan, seorang anak perlu dirawat dan dijaga dengan baik. Semakin baik perawatan kita tentu akan semakin baik pula hasilnya. Salah satu yang seharusnya ditanamkan oleh para orang tua, sebagai bentuk penjagaan adalah bekal-bekal Al Qur’an. Al Qur’an adalah bekal utama yang tidak boleh ditinggalkan oleh para orang tua saat ini. Tanpa bekal Al Qur’an mustahil kita akan mampu mendidik anak kita menjadi anak yang sholeh/ah, sebab Islam memandang bahwa faktor yang menentukan seorang anak dikatakan sholeh/ah, dirinya memiliki bekal Al Qur’an.


Hari ini, kita banyak jumpai anak muslim di kampung-kampung yang tidak memiliki bekal Al Qur’an. Tidak adanya bekal Al Qur’an tersebut kebanyakan bukan karena anaknya malas untuk belajar atau karena orang tua yang enggan membekali anaknya, tapi lebih pada tidak adanya tempat untuk bisa membekali Al Qur’an (semacam TPA/TPQ). Hari ini TPA/TPQ masih tetap menjadi harapan dan tumpuan oleh kebanyakkan para orang tua saat ini khususnya yang minim ilmu dan harta. Hari ini TPA/TPQ di masjid kampung dinantikan dan diharapkan kiprahnya oleh mayoritas jama’ah dan masyarakat sekitar masjid. Akan tetapi, sekalipun TPA/TPQ di masjid kampung sangat urgen untuk membekali Al Qur’an bagi anak-anak saat ini, sayangnya tidak semua orang tua menaruh harapan terhadap TPA/TPQ.

Biasanya orang tua yang cukup ilmu dan mapan hidupnya (tingkat sosial menengah ke atas), tidak terlalu mengharapkan TPA/TPQ untuk membekali anak-anak mereka dengan Al Qur’an, mungkin mereka berpandangan bahwa bekal Al Qur’an masih bisa diberikan pada anak-anak mereka dengan cara dipondokpesantrenkan atau di sekolah fullday schoolkan (yang sudah meliputi bekal Al Qur’an), walaupun harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit. Dan kebetulan sekali, para orang tua yang tidak terlalu berharap pada TPA/TPQ justru kebanyakan didominasi kalangan pengurus masjid hari ini. Jika kita tidak percaya, coba kita cermati dengan baik, rata-rata pengurus masjid adalah orang yang secara ekonomi telah mapan, kemudian jika di lihat dari pendidikan anak-anak/keturunannya, kebanyakan mereka tidak tergantung dengan TPA/TPQ. Yang jadi pertanyaan adalah, mungkinkah jika orang yang tidak terlalu berharapan terhadap TPA’TPQ (sebagai sarana untuk membekali Al Qur’an untuk anak-anak) bisa peduli dan memperjuangkan nasib TPA/TPQ dengan baik dan sungguh-sungguh? Jawabannya sudah pasti tidak mungkin. Teman teman FBku sekalian, inilah barangkali sebabnya mengapa TPA/TPQ tidak bisa berjalan dengan baik di masjid kita hari ini.Dan seakan-akan tidak ada kesungguhan untuk menghidupkan dan menjalankan TPA/TPQ kembali dengan baik dan profesional.


Maka dari itu, jika masjid peduli dengan kepentingan jama’ah atau masyarakat muslim di sekitar masjid (yang mengalami kesulitan dalam memberikan bekal pengajaran Al Qur’an pada anak-anak mereka) tentu pengurus masjid akan memberikan perhatian lebih pada TPA/TPQ hari ini, bahkan jika perlu berkorban apapun asal TPA/TPQ bisa berjalan dengan baik, sehingga jama’ah merasakan manfaatnya, khususnya pada anak-anak mereka. Mari coba kita renungkan baik-baik, jika kita selaku orang tua begitu bersemangatnya beribadah di masjid (untuk mencari bekal akhirat), kita begitu rajin infaq ditiap jum’atan (walau kebanyakan hanya sekedar dikumpulkan saja), kita begitu peduli dengan berbagai kegiatan masjid. Tapi perlu anda ingat, bahwa semua itu kembali pada diri anda selaku pribadi muslim/orang tua. Lalu, mana yang kembali kepada anak-anak anda, walau hanya dalam wujud pengajaran Al Qur’an (di TPA/TPQ)? Sementara anda tidak mampu mengajarkan Al Qur’an sendiri ?

Hasilnya, inilah kenyataannya jika masjid tidak peduli dengan TPA/TPQ, anak-anak di sekitar masjid tidak mendapatkan manfaat dari masjidnya, kalaupun ada pengajaran Al Qur’an biasanya hanya di bulan Ramadhan semata. Yang jadi pertanyaan kita kembali, apa mungkin mendidik anak-anak kita dengan Al Qur’an hanya mengandalkan bulan Ramadhan ?

Maka, jika ada masjid yang TPA/TPQ nya saja tidak berjalan, atau berjalan tapi asal jalan semata, hal ini menunjukkan kegagalan pengurus masjidnya, tapi sayangnya pengurus masjid hari ini banyak yang merasa tidak pernah gagal menjadi pengurus masjid. orang tuanya. Tapi sayangnya mendidik anak agar menjadi anak sholeh/ah bukan pekerjaan mudah bagi orang tua saat ini. Para orang tua dituntut untuk mencurahkan perhatian dan pengorbanannya demi si buah hati tercinta. Lahirnya seorang anak sholeh/ah bukan tiba-tiba saja muncul, tapi perlu ada pendidikan dan penanaman sejak usia dini. Ibarat tumbuhan, seorang anak perlu dirawat dan dijaga dengan baik. Semakin baik perawatan kita tentu akan semakin baik pula hasilnya. Salah satu yang seharusnya ditanamkan oleh para orang tua, sebagai bentuk penjagaan adalah bekal-bekal Al Qur’an. Al Qur’an adalah bekal utama yang tidak boleh ditinggalkan oleh para orang tua saat ini. Tanpa bekal Al Qur’an mustahil kita akan mampu mendidik anak kita menjadi anak yang sholeh/ah, sebab Islam memandang bahwa faktor yang menentukan seorang anak dikatakan sholeh/ah, dirinya memiliki bekal Al Qur’an.


Hari ini, kita banyak jumpai anak muslim di kampung-kampung yang tidak memiliki bekal Al Qur’an. Tidak adanya bekal Al Qur’an tersebut kebanyakan bukan karena anaknya malas untuk belajar atau karena orang tua yang enggan membekali anaknya, tapi lebih pada tidak adanya tempat untuk bisa membekali Al Qur’an (semacam TPA/TPQ). Hari ini TPA/TPQ masih tetap menjadi harapan dan tumpuan oleh kebanyakkan para orang tua saat ini khususnya yang minim ilmu dan harta. Hari ini TPA/TPQ di masjid kampung dinantikan dan diharapkan kiprahnya oleh mayoritas jama’ah dan masyarakat sekitar masjid. Akan tetapi, sekalipun TPA/TPQ di masjid kampung sangat urgen untuk membekali Al Qur’an bagi anak-anak saat ini, sayangnya tidak semua orang tua menaruh harapan terhadap TPA/TPQ. Biasanya orang tua yang cukup ilmu dan mapan hidupnya (tingkat sosial menengah ke atas), tidak terlalu mengharapkan TPA/TPQ untuk membekali anak-anak mereka dengan Al Qur’an, mungkin mereka berpandangan bahwa bekal Al Qur’an masih bisa diberikan pada anak-anak mereka dengan cara dipondokpesantrenkan atau di sekolah fullday schoolkan (yang sudah meliputi bekal Al Qur’an), walaupun harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit. Dan kebetulan sekali, para orang tua yang tidak terlalu berharap pada TPA/TPQ justru kebanyakan didominasi kalangan pengurus masjid hari ini. Jika anda tidak percaya, coba anda cermati dengan baik, rata-rata pengurus masjid adalah orang yang secara ekonomi telah mapan, kemudian jika di lihat dari pendidikan anak-anak/keturunannya, kebanyakan mereka tidak tergantung dengan TPA/TPQ. Yang jadi pertanyaan adalah, mungkinkah jika orang yang tidak terlalu berharapan terhadap TPA’TPQ (sebagai sarana untuk membekali Al Qur’an untuk anak-anak) bisa peduli dan memperjuangkan nasib TPA/TPQ dengan baik dan sungguh-sungguh? Jawabannya sudah pasti tidak mungkin.

Inilah mungkin sebabnya mengapa TPA/TPQ tidak bisa berjalan dengan baik di masjid kita hari ini.Dan seakan-akan tidak ada kesungguhan untuk menghidupkan dan menjalankan TPA/TPQ kembali dengan baik dan profesional. Maka dari itu, jika masjid peduli dengan kepentingan jama’ah atau masyarakat muslim di sekitar masjid (yang mengalami kesulitan dalam memberikan bekal pengajaran Al Qur’an pada anak-anak mereka) tentu pengurus masjid akan memberikan perhatian lebih pada TPA/TPQ hari ini, bahkan jika perlu berkorban apapun asal TPA/TPQ bisa berjalan dengan baik, sehingga jama’ah merasakan manfaatnya, khususnya pada anak-anak mereka.

Mari coba kita renungkan baik-baik, jika kita selaku orang tua begitu bersemangatnya beribadah di masjid (untuk mencari bekal akhirat), kita begitu rajin infaq ditiap jum’atan (walau kebanyakan hanya sekedar dikumpulkan saja), kita begitu peduli dengan berbagai kegiatan masjid. Tapi perlu kita ingat, bahwa semua itu kembali pada diri kita selaku pribadi muslim/orang tua. Lalu, mana yang kembali kepada anak-anak kita, walau hanya dalam wujud pengajaran Al Qur’an (di TPA/TPQ)? Sementara kita tidak mampu mengajarkan Al Qur’an sendiri ? Wal hasil, inilah kenyataannya jika masjid tidak peduli dengan TPA/TPQ, anak-anak di sekitar masjid tidak mendapatkan manfaat dari masjidnya, kalaupun ada pengajaran Al Qur’an biasanya hanya di bulan Ramadhan semata.



Yang jadi pertanyaan kita kembali, apa mungkin mendidik anak-anak kita dengan Al Qur’an hanya mengandalkan bulan Ramadhan ? Maka, jika ada masjid yang TPA/TPQ nya saja tidak berjalan, atau berjalan tapi asal jalan semata, hal ini menunjukkan kegagalan pengurus masjidnya, tapi sayangnya pengurus masjid hari ini banyak yang merasa tidak pernah gagal menjadi pengurus masjid

Faktor terbesar yang menyebabkan terjadinya dekadensi moral pada anak-anak dan terbentuknya kepribadian yang buruk pada diri mereka adalah kurangnya perhatian kedua orang tua untuk mengajarkan akhlak yang mulia kepada si anak dan dikarenakan kesibukan mereka hingga tidak ada kesempatan untuk mengarahkan dan mendidik anak-anaknya.

Apabila seorang ayah tidak lagi peduli terhadap tanggung jawabnya untuk mengarahkan dan mendidik serta mengawasi anak-anaknya, dan dikarenakan faktor tertentu, si ibu kurang menunaikan kewajibannya dalam mendidik si anak maka tidak diragukan lagi si anak akan tumbuh seperti anak yatim yang tidak memiliki orang tua, ia hidup bagai sampah masyarakat, bahkan suatu saat akan menjadi penyebab terjadinya kerusakan dan kejahatan di tengah-tengah umat.

Sesungguhnya kepedulian kedua orang tua tidak hanya terbatas memberikan pengajaran kepada mereka. Akan tetapi, mereka harus dibimbing dan dibantu dalam mempraktekkan bagaimana cara berbakti kepada kedua orang tuanya, tentu dengan cara dan perlakuan terbaik. Akan tetapi, jika orang tua tidak peduli akan pendidikan akhlak mereka maka si anak akan menjadi duri bagi kedua orang tuanya, karena berbakti kepada kedua orang tua merupakan sifat yang tidak akan muncul begitu saja tanpa melalui pengajaran

Tak terasa waktu sudah hampir maghrib, akupun pulang dengan mata berkaca-kaca. Perjuangan tak akan pernah berakhir. Wahai para orang tua? Mari kita prioritaskan pendidikan agama pada putra-putri kita. Mohon maaf bila tulisan ini kurang berkenan dihati. Semoga apa yang kita berikan walau sedikit dapat bermanfaat bagi sesama. Khoirun Nass anfauhum linnas.,, Amin ..

FB : abiesubhan@yahoo.co.id

Sabtu, November 26, 2011

Kupinang Engkau Dengan Hamdalah


“Di antara tanda-tanda kekuasaan Allah, ialah diciptakannya pasangan-pasanganmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung padanya. Dan Allah menjadikan di antara kalian perasaan tenteram dan kasih sayang. Pada yang demikian ada tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.” (QS: Ar-Rum-21)Ketika tiba masa usia aqil baligh, maka perasaan ingin memperhatikan dan diperhatikan lawan jenis begitu bergejolak. Banyak perasaan aneh dan bayang-bayang suatu sosok berseliweran tak karuan. Kadang bayang-bayang itu menjauh tapi kadang terasa amat dekat. Kadang seorang pemuda bisa bersikap acuh pada bayang-bayang itu tapi kadang terjebak dan menjadi lumpuh. Perasaan sepi tiba-tiba menyergap ke seluruh ruang hati. Hati terasa sedih dan hidup terasa hampa. Seakan apa yang dilakukannya jadi sia-sia. Hidup tidak bergairah. Ada setitik harapan tapi berjuta titik kekhawatiran justru mendominasi.

Perasaan semakin tak menentu ketika harapan itu mulai mengarah kepada lawan jenis. Semua yang dilakukannya jadi serba salah. Sampai kapan hal ini berlangsung? Jawabnya ada pada pemuda itu sendiri. Kapan ia akan menghentikan semua ini. Sekarang, hari ini, esok, atau tahun-tahun besok. Semakin panjang upaya penyelesaian dilakukan yang jelas perasaan sakit dan tertekan semakin tak terperikan. Sebaliknya semakin cepat /pendek waktu penyelesaian diupayakan, kebahagiaan & kegairahan hidup segera dirasakan. Hidup menjadi lebih berarti & segala usahanya terasa lebih bermakna.

Penyelesaian apa yang dimaksud? Menikah! Ya menikah adalah alat solusi untuk menghentikan berbagai kehampaan yang terus mendera. Lantas kapan? Bilakah ia bisa dilaksanakan? Segera! Segera di sini jelas berbeda dengan tergesa-gesa. Untuk membedakan antara segera dengan tergesa-gesa, bisa dilihat dari dua cara :

Pertama, tanda-tanda hati. Orang yang mempunyai niat tulus, kata Imam Ja’far, adalah dia yang hatinya tenang, sebab hati yang tenang terbebas dari pemikiran mengenai hal-hal yang dilarang, berasal dari upaya membuat niat murni untuk Allah dalam segala perkara. Kalau menyegerakan menikah karena niat yang jernih, Insya Allah hati akan merasakan sakinah, yaitu ketenangan jiwa saat menghadapi masalah-masalah yang harus diselesaikan. Kita merasa yakin, meskipun harapan & kekhawatiran meliputi dada. Lain lagi dengan tergesa-gesa. Ketergesaan ditandai oleh perasaan tidak aman & hati yang diliputi kecemasan yang memburu.

Kedua, tanda-tanda perumpamaan. Ibarat orang bikin bubur kacang hijau, ada beberapa bahan yang diperlukan. Bahan paling pokok adalah gula & kacang hijau. Jika gula & kacang hijau dimasukkan air kemudian direbus, maka akan didapati kacang hijau tidak mengembang. Ini namanya tergesa-gesa. Kalau gula baru dimasukkan setelah kacang hijaunya mekar ini namanya menyegerakan. Tapi kalau lupa, tidak segera memasukkan gula setelah kacang hijaunya mekar cukup lama orang akan kehilangan banyak zat gizi yang penting.

Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah bersabda : “Tiga orang yang selalu diberi pertolongan Allah adalah seorang mujahid yang selalu memperjuangkan agama Allah, seorang penulis yang selalu memberi penawar & seorang yang menikah untuk menjaga kehormatannya” (HR Thabrani)

Banyak jalan yang dapat menghantarkan orang kepada peminangan & pernikahan. Banyak sebab yang mendekatkan dua orang yang saling jauh menjadi suami istri yang penuh barakah & diridhai Allah. Ketika niat sudah mantap & tekad sudah bulat, persiapkan hati untuk melangkah ke peminangan. Dianjurkan, memulai lamaran dengan hamdalah & pujian lainnya kepada Allah SWT. Serta Shalawat kepada Rasul-Nya. Abu Hurairah r.a. menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda : “Setiap perkataan yang tidak dimulai dengan bacaan hamdalah, maka hal itu sedikit barakahnya (terputus keberkahannya)” HR Abu Daud, Ibnu Majah & Imam Ahmad.

Setelah peminangan disampaikan, biarlah pihak wanita & wanita yang bersangkutan untuk mempertimbangkan. Sebagian memberikan jawaban segera, sebelum kaki bergeser dari tempat berpijaknya, sebab menikah mendekatkan kepada keselamatan akhirat, sedang calon yang datang sudah diketahui akhlaqnya, sebagian memerlukan waktu yang cukup lama untuk bisa memberi kepastian apakah pinangan diterima atau ditolak, karena pernikahan bukan untuk sehari dua hari.

Apapun, serahkan kepada keluarga wanita untuk memutuskan. Mereka yang lebih tahu keputusan apa yang terbaik bagi anaknya. Anda harus husnudzan pada mereka. Bukankah ketika meminang wanita berarti anda mempercayai wanita yang diharapkan oleh anda beserta keluarganya.

Keputusan apapun yang mereka berikan, sepanjang didasarkan atas musyawarah yang lurus, akan baik dan Insya Allah memberi akibat yang baik bagi anda. Tidak kecewa orang yang istikharah & tidak merugi orang yang musyawarah. Maka apapun hasil musyawarah, sepanjang dilakukan dengan baik, akan membuahkan kebaikan. Sebuah keputusan tidak bisa disebut buruk atau negatif, jika memang didasarkan kepada musyawarah yang memenuhi syarat, hanya karena tidak memberi kesempatan kepada anda untuk menjadi anggota keluarga mereka. Jika niat anda memang untuk silaturrahim, bukankah masih tersedia banyak peluang untuk menyambung?

Anda telah meminangnya dengan hamdalah, anda telah dimampukan datang oleh Allah Yang Maha Besar. Dia-lah Yang Maha Lebih Besar. Semuanya kecil. Ada pelajaran yang sangat berharga dari Bilal bin Rabbah tentang meminang. Ketika ia bersama Abu Ruwaihah menghadap kabilah Khaulan, Bilal mengemukakan : “Jika pinangan kami anda terima, kami ucapkan Alhamdulillah. Dan kalau anda menolak, maka kami ucapkan Allahu Akbar.” Maka, kalau pinangan yang anda sampaikan ditolak, agungkan Allah, semoga anda tetap berbaik sangka kepada Allah & juga kepada keluarganya. Sebab bisa jadi, penolakan merupakan jalan pensucian jiwa dari kedzaliman diri sendiri, bisa jadi penolakan merupakan proses untuk mencapai kematangan, kemantapan & kejernihan niat. Sementara ada banyak hal yang dapat mengotori niat. Bisa jadi Allah hendak mengangkat derajat anda, kecuali anda justru malah merendahkan diri sendiri. Tapi hati perlu diperiksa, jangan-jangan perasaan itu muncul karena ujub.

Kekecewaan, mungkin saja timbul. Barangkali ada perasaan yang perih, barangkali juga ada yang merasa kehilangan rasa percaya diri saat itu. Ini merupakan reaksi psikis yang wajar, kecewa adalah perasaan yang manusiawi, tetapi ia harus diperlakukan dengan cara yang tepat agar ia tidak menggelincirkan ke jurang kenistaan yang sangat gelap. Kecewa memang pahit. Orang sering tidak tahan menanggung rasa kecewa, mereka berusaha membuang jauh-jauh sumber kekecewaan. Sekilas nampak tidak ada masalah, tetapi setiap saat berada dalam kondisi rawan. Perasaan itu mudah bangkit lagi dengan rasa sakit yang lebih perih. Dan yang demikian tidak dikehendaki Islam. Islam menghendaki kekecewaan itu menghilang perlahan-lahan secara wajar. Sehingga kita bisa mengambil jarak dari sumber kekecewaan dengan tidak kehilangan obyektivitas & kejernihan hati, kita menjadi lebih tegar, meskipun proses yang dibutuhkan untuk menghapus kekecewaan lebih lama.

Kalau anda merasa kecewa, periksalah niat anda. Dibalik yang dianggap baik, mungkin ada niat yang tidak lurus. Periksalah motif-motif yang melintas dalam batin. Selama peminangan hingga saat menunggu jawaban. Kemudian biarkan hati memproses secara wajar sampai menemukan kembali ketenangan secara mantap.

Tetapi kalau jawaban yang diberikan oleh keluarga wanita sesuai harapan, berbahagialah sejenak. Bersyukurlah. Insya Allah kesendirian yang dialami dengan menanggung rasa sepi sebentar lagi akan menghapus kepenatan selama di luar rumah. Insya Allah sebentar lagi.

Tunggulah beberapa saat. Setelah tiba masanya, halal bagi anda untuk melakukan apa saja yang menjadi hak anda bersamanya. Akan tiba masanya anda merasakan kehangatan cintanya. Kehangatan cinta wanita yang telah mempercayakan kesetiaannya kepada anda. Setelah tiba masanya, halal bagi anda untuk menemukan pangkuannya ketika anda risau.

Selama menunggu, ada kesempatan untuk menata hati. Melalui pernikahan Allah memberikan banyak keindahan & kemuliaan. Wanita boleh menawarkan Islam memberikan penghormatan yang suci kepada niat & ikhtiar untuk menikah. Nikah adalah masalah kehormatan agama, bukan sekedar legalisasi penyaluran kebutuhan biologis dengan lawan jenis. Islam memperbolehkan kaum wanita untuk menawarkan dirinya kepada laki-laki yang berbudi luhur, yang ia yakini kehormatan agamanya, dan kejujuran amanahnya menjadi suaminya. Dan Khadijah r.a atas teladan bagi wanita yang bermaksud untuk menawarkan diri.

Sikap menawarkan diri menunjukkan ketinggian akhlaq & kesungguhan untuk mensucikan diri. Sikap ini lebih dekat kepada ridha Allah & untuk mendapatkan pahala-Nya, Allah pasti mencatatnya sebagai kemuliaan & mujahadah yang suci. Tidak peduli tawarannya diterima atau ditolak, terutama kalau ia tidak mempunyai wali. Insya Allah, jika sikap menawarkan diri dilakukan dengan ketinggian sopan santun, tidak akan menimbulkan akibat kecuali yang maslahat. Seorang laki-laki yang memiliki pengetahuan yang mendalam pasti akan meninggikan penghormatan seperti ini, kecuali laki-laki yang rendah & tidak memiliki kehormatan, kecuali sekedar apa yang disangkanya sebagai kebaikan.

Imam Bukhari menceritakan cerita dari Anas r.a ada seorang wanita yang datang menawarkan diri kepada Rasulullah SAW dan berkata : “Ya Rasulullah! Apakah baginda membutuhkan daku?” Putri Anas yang hadir & mendengarkan perkataan wanita itu mencela sang wanita yang tidak punya harga diri & rasa malu, “Alangkah sedikitnya rasa malunya, sungguh memalukan, sungguh memalukan.” Anas berkata kepada putrinya : “Dia lebih baik darimu, Dia senang kepada Rasulullah SAW lalu dia menawarkan dirinya untuk beliau!” (HR Bukhari).

Minggu, November 20, 2011

CInta Akan Kedewasaan


Mencintai orang yang lebih dewasa, ah rasanya tidak mungkin. Andai dia tahu bahwa yang dia lakukan adalah suatu kesalahan mungkin tidak akan pernah dia menjalani hubungannya dengan lelaki dewasa. Tak terbersit sedikit pun rasa ingin atau sekedar mengagumi lelaki dewasa yang sudah mapan, tapi kenyataannya, dia telah melakukan hal tersebut.


Mencintai bagi dia merupakn suatu yang menganggu ketika dia merasa ada rasa cinta dan sayang kepada laki-laki dewasa selain orang tuanya. Rasa cinta dan sayang itu bukan hanya rasa yang dia miliki layaknya rasa y\cinta yang dia berikan atau dia rasakan ketika bersama orang tuanya. Dia tak pernah menyadari bahwa yang dia lakukan adalah hal yang salah. Pernah dia berpikir bahwa rasa itu hanyalah rasa yang dia rasakan karena dia merasa dirinya masih kecil dan bersikap kekanak-kanakan. Dia merasa nyaman ketika dia berdekatan dengan orang yang layaknya dia sebut sebagai ayah.

Lambat laun rasa itu berubah menjadi rasa yang berbeda, jauh dari yang dia bayangkan. Dia merasa seluruh orang menghina sikapnya. Dia merasa semua orang mencibir dan mengatakan dia tidak tahu diri, tapi itu hanya dalam pikirannya saja karena tak pernah dia berperilaku yang membuat orang tahu kalau dia menyukai lelaki dewasa.


Mula-mula dia menganggap lelaki dewasa adalah seorang ayah. Bersamanyalah dia mendapatkan perlindungan, kasih sayang, dan kehangatan. Rasa itu terasa cepat sekali berubah menjadi rasa yang jauh mengejutkan. Rasa suka seorang wanita kepada seorang laki-laki, itulah yang dia rasakan saat ini. Tanggung jawab, pengertian, dan perhatian yang lelaki dewasa itu berikan layaknya atau tepatnya ia curahkan sebagai bentuk kasih sayang seorang ayah kepada anaknya ditanggapi berbeda dari dia.

Dia tak tahu harus berbuat apa. Di hatinya terbersit untuk menyingkirkan dan kadang dia menisbahkan dirinya sebagai wanita yang hina. Dia tahu lelaki dewasa itu sudah mempunyai anak, usianya pun jauh di atas usianya, tapi semua itu tidak bisa membuat dia melupakan lelaki dewasa yang tertanam dalam benak luasnya yang kini mulai menyempit karena keberadaan lelaki dewasa itu.

“Aku harus berbuat apa. Aku tidak pernah ingin merasakan cinta kepada lelaki itu !” Teriaknya dalam hati. “Kalau pun aku mencintai seorang lelaki, aku tahu batas. Aku tidak akan berani mencintai lelaki yang sudah beristri !” lanjutnya kembali.

Wanita itu menangis dan terus menangis di atas sajadah yang terhampar di kamarnya, tempat teraman dan ternyaman yang dia punyai. Teman akrabnya pun tidak pernah dia ceritakan bahwa dia sedang mencintai lelaki dewasa. Dia hanya memendam rasa yang selama ini dia rasakan sebagai sesuatu yang sangat menyiksa dirinya. Dia sendiri tanpa kawan. Hanya batinnya dan Allah saja yang tahu keadaan dia yang sesungguhnya.

“salah kah aku ya Allah. Aku mencintainya karena kesholehan yang dia miliki. Aku mencintainya karena akhlaq yang baik dan indah yang dia punyai. Patutkan aku disalahkan yang Allah jika aku tidak menginginkannya sedang rasa itu datang dengan sendirinya dan aku tidak pernah menginginkn rasa itu ya Allah.” Dia larut dalam tangis yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Dia merasa dirinya tak pantas diberikan cobaan seperti ini. Hatinya menjerit untuk menyangkal bahwa dia tidak sepenuhnya mengingikan rasa itu berkecamuk di dadanya. Andai pun rasa itu muncul di hatinya, yang dia inginkan bukan lelaki dewasa yang pantas dia sebut sebagai ayah.


Dia tak tahu harus mengadu kepada siapa. Dia tidak percaya bahwa orang lain bisa memahami dirinya seutuhnya. Dia malah bersu’udzon dengan apa-apa yang akan dikatakan oleh orang lain terhadap apa yang akan dia sampaikan. Lelaki dewasa itu memang pantas untuk dicintai, tapi bukannya cinta seperti cintanya seorang wanita terhadap seorang laki-laki, tapi cinta antara seorang anak terhadap ayahnya.

Wanita itu selalu menyalahkan dirinya. Dia tahu bahwa suatu saat nanti dia akan dipertemukan dengan seorang yang lebih pantas untuknya, bukan lelaki dewasa yang dia kenal sekarang ini.

Kalaupun lelaki dewasa itu adalah jodoh yang Allah tetapkan untuk dirinya, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Pasti cemoohan dan wajah sinis akan dia rasakan ketika dia bertemu dengan tetangga-tetangganya. Dia tepis semua su’udzon terhadap tetangganya.

Sudah banyak orang mau mendekatinya. Ada juga yang ingin mengajaknya untuk mengarungi bahtera kehidupan keluarga, tapi dia tolak. Dia merasa di dalam diri lelaki yang mencoba mendekatinya itu tidak memiliki sifat-sifat seperti lelaki dewasa itu. Dia fokus pada sifat yang dia lihat pada lelaki dewasa itu dan menutup jauh setiap sifat yang dimiliki oleh lelaki muda yang datang kepadanya.

Jodoh dan Kedewasaan Kita

Assalamualaikum wr. wb


Jodoh adalah problema serius, terutama bagi para Muslimah. Kemana pun mereka melangkah, pertanyaan-pertanyaan “kreatif” tiada henti membayangi. Kapan aku menikah? Aku rindu seorang pendamping, namun siapa? Aku iri melihat wanita muda menggendong bayi, kapan giliranku dipanggil ibu? Aku jadi ragu, benarkah aku punya jodoh? Atau jangan-jangan Tuhan berlaku tidak adil?

Jodoh serasa ringan diucap, tapi rumit dalam realita. Kebanyakan orang ketika berbicara soal jodoh selalu bertolak dari sebuah gambaran ideal tentang kehidupan rumah tangga. Otomatis dia lalu berpikir serius tentang kriteria calon idaman. Nah, di sinilah segala sedu-sedan pembicaraan soal jodoh itu berawal. Pada mulanya, kriteria calon hanya menjadi ‘bagian masalah’, namun kemudian justru menjadi inti permasalahan itu sendiri.


Di sini orang berlomba mengajukan “standardisasi” calon: wajah rupawan, berpendidikan tinggi, wawasan luas, orang tua kaya, profesi mapan, latar belakang keluarga harmonis, dan tentu saja kualitas keshalihan.
Ketika ditanya, haruskah seideal itu? Jawabnya ringan, “Apa salahnya? Ikhtiar tidak apa, kan?” Memang, ada juga jawaban lain, “Saya tidak pernah menuntut. Yang penting bagi saya calon yang shalih saja.” Sayangnya, jawaban itu diucapkan ketika gurat-gurat keriput mulai menghiasi wajah. Dulu ketika masih fresh, sekadar senyum pun mahal.

Tidak ada satu pun dalih, bahwa peluang jodoh lebih cepat didapatkan oleh mereka yang memiliki sifat superior (serbaunggul). Memperhitungkan kriteria calon memang sesuai sunnah, namun kriteria tidak pernah menjadi penentu sulit atau mudahnya orang menikah. Pengalaman riil di lapangan kerap kali menjungkirbalikkan prasangka-prasangka kita selama ini.
Jodoh, jika direnungkan, sebenarnya lebih bergantung pada kedewasaan kita. Banyak orang merintih pilu, menghiba dalam doa, memohon kemurahan Allah, sekaligus menuntut keadilan-Nya. Namun prestasi terbaik mereka hanya sebatas menuntut, tidak tampak bukti kesungguhan untuk menjemput kehidupan rumah tangga.


Mereka bayangkan kehidupan rumah tangga itu indah, bahkan lebih indah dari film-film picisan ala bintang India, Sahrukh Khan. Mereka tidak memandang bahwa kehidupan keluarga adalah arena perjuangan, penuh liku dan ujian, dibutuhkan napas kesabaran panjang, kadang kegetiran mampir susul-menyusul. Mereka hanya siap menjadi raja atau ratu, tidak pernah menyiapkan diri untuk berletih-letih membina keluarga.

Kehidupan keluarga tidak berbeda dengan kehidupan individu, hanya dalam soal ujian dan beban jauh lebih berat. Jika seseorang masih single, lalu dibuai penyakit malas dan manja, kehidupan keluarga macam apa yang dia impikan?
Pendidikan, lingkungan, dan media membesarkan generasi muda kita menjadi manusia-manusia yang rapuh. Mereka sangat pakar dalam memahami sebuah gambar kehidupan yang ideal, namun lemah nyali ketika didesak untuk meraih keidealan itu dengan pengorbanan. Jika harus ideal, mereka menuntut orang lain yang menyediakannya. Adapun mereka cukup ongkang-ongkang kaki. Kesulitan itu pada akhirnya kita ciptakan sendiri, bukan dari siapa pun.
Bagaimana mungkin Allah akan memberi nikmat jodoh, jika kita tidak pernah siap untuk itu? “Tidaklah Allah membebani seseorang melainkan sekadar sesuai kesanggupannya.” (QS Al Baqarah, 286). Di balik fenomena “telat nikah” sebenarnya ada bukti-bukti kasih sayang Allah SWT.


Ketika sifat kedewasaan telah menjadi jiwa, jodoh itu akan datang tanpa harus dirintihkan. Kala itu hati seseorang telah bulat utuh, siap menerima realita kehidupan rumah tangga, manis atau getirnya, dengan lapang dada.
Jangan pernah lagi bertanya, mana jodohku? Namun bertanyalah, sudah dewasakah aku?
Wallahu a’lam bisshawaab.

wassalamu’alaikum wr wb
(RKI)